ASMA DAN TERAPI INHALASI | Blog

13 July

ASMA DAN TERAPI INHALASI

ASMA DAN TERAPI INHALASI

 

dr. Frany Charisma Budianto

 

Pendahuluan

Sesak merupakan salah satu gejala yang paling ditakuti oleh pasien-pasien yang memiliki penyakit respirasi. Sesak juga merupakan alasan paling sering bagi pasien dengan penyakit respirasi untuk datang ke instalasi gawat darurat.

Sesak merupakan salah satu gejala yang muncul ketika tubuh kekurangan oksigen. Biasanya orang yang sesak merasakan berat saat menarik napas, tidak dapat menarik napas panjang, dan meningkatnya upaya yang dilakukan untuk bernapas. Sesak dapat disebabkan oleh penyakit paru, di antaranya adalah asma dan PPOK, juga dapat disebabkan oleh penyakit di luar paru, antara lain penyakit jantung dan ginjal. Tatalaksana sesak dapat berbeda sesuai dengan penyakit yang melatarbelakanginya, namun pada artikel ini, kita akan membahas sesak yang disebabkan oleh asma.

 

Apa itu Asma?

Asma adalah gangguan peradangan kronik saluran napas yang menyebabkan peningkatan respon jalan napas yang menimbulkan gejala yang berulang di waktu tertentu, dimana gejala  tersebut berhubungan dengan hambatan jalan napas yang luas.Penyakit ini berhubungan dengan faktor genetik dan dapat dicetuskan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah cuaca, stress fisik dan emosional, adanya infeksi, juga faktor pencetus lain.

Gejala utama yang sering dirasakan oleh pasien dengan asma di antaranya adalah sesak, suara mengi atau ngik-ngikan, atau batuk. Gejala ini akan muncul bervariasi sesuai dengan adanya paparan pencetus. Untuk dapat membedakan gejala ini dengan penyakit lain, dokter biasanya akan melakukan uji faal paru dengan spirometri.

 

Terapi Inhalasi

Beberapa tahun ini, tatalaksana asma sudah mulai bergeser dari obat yang diminum, menjadi obat yang dihisap / inhalasi.Terapi inhalasi sekarang lebih dipilih untuk tatalaksana asma karena beberapa kelebihan. Kelebihan terapi inhalasi di antaranya adalah dosis yang diperlukan untuk mencapai efek terapi lebih kecil dibandingkan dengan obat minum, efek samping lebih sedikit karena obat ini hanya bekerja di sepanjang saluran napas dengan penyerapan ke bagian tubuh lain lebih sedikit, waktu kerja obat lebih cepat, dan tidak mengganggu lambung.

Namun terapi inhalasi ini juga memiliki beberapa kekurangan, di antaranya adalah efektivitas obat ini tergantung dari ketepatan penggunaan obat dan juga harga yang relative lebih mahal dibandingkan obat yang diminum sehingga belum semua sarana kesehatan yang menyediakan obat inhalasi.

Obat inhalasi yang tersedia dapat berfungsi sebagai pengencer dahak, pelega jalan nafas, antibiotik, dan juga anti peradangan. Bentuk dari obat inhalasi pun bermacam-macam, ada yang dalam bentuk obat semprot dan obat hisap dengan dosis terukur maupun obat inhalasi yang diberikan secara nebulisasi atau seringkali kita kenal dengan terapi uap.

 

Pada pasien asma yang sedang dalam serangan sesak, salah satu terapi yang menjadi pilihan utama adalah terapi uap atau nebulisasi. Terapi nebulisasi juga merupakan salah satu terapi inhalasi pilihan untuk bayi atau anak yang mengalami sesak. Obat inhalasi dihantarkan melalui masker atau mouthpiece melalui alat nebulisasi, yang dapat berupa jet atau ultrasonik. Kedua nebulizer ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Alat nebulizer berbentuk ultrasonik menghasilkan partikel yang lebih kecil dan suara yang lebih halus dibandingkan dengan nebulizer jet. Namun kelemahannya adalah obat yang dapat dipakai pada nebulizer ultrasonik lebih terbatas, apabila kekentalan cairan tersebut lebih tinggi maka tidak dapat dipakai, juga alat yang cenderung lebih besar dan lebih mahal. Oleh karena itulah maka nebulizer jet lebih populer dibandingkan dengan nebulizer ultrasonic, karena meskipun suara yang dihasilkan lebih bising, namun dapat digunakan untuk semua obat / cairan. Selain itu alat ini juga harganya lebih murah dan lebih mudah dibawa karena ukuran yang lebih kecil dan juga perawatan yang lebih mudah. Beberapa nebulizer jet bahkan memiliki mode baterai sehingga sangat memudahkan untuk dibawa bepergian ataupun untuk beberapa tempat dengan pasokan listrik yang terbatas.

Selain nebulisasi,terapi inhalasi yang dapat dilakukan pada pasien asma dalam serangan adalah denan menggunakan Inhaler Dosis Terukur (IDT) baik dengan menggunakan alat bantu spacer maupun tidak. Inhaler jenis ini seringkali digunakan untuk serangan asma yang ringan sebagai pertolongan pertama di luar fasilitas kesehatan. IDT ini cukup efektif jika digunakan dengan cara yang tepat. Penggunaan alat bantu (spacer) dapat memperbaiki hantaran obat ke paru, terutama pada pasien yang kesulitan untuk melakukan koordinasi misalnya pada anak-anak.

Selain digunakan untuk tatalakasana serangan, terapi inhalasi juga merupakan pilihan utama dalam mengontrol asma. Sudah banyak bentuk dan jenis terapi inhalasi yang dikembangkan untuk membantu pasien dalam mengontrol asmanya. Obat Inhalasi Dosis Terukur ini ada berbagai bentuk mulai dari turbuhaler, diskhaler, rotahaler, swinghaler, juga easyhaler. Masing-masing dikembangkan dengan kelebihan dan kekurangannya agar pasien dapat menggunakannya dengan lebih mudah.

Dengan semakin berkembangnya alat yang digunakan untuk terapi inhalasi, maka pasien pun dapat memilih alat yang paling tepat dan mudah untuk digunakan. Jika demikian maka kepatuhan pengobatan akan lebih baik dan kontrol asma dapat dicapai dengan optimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

[1] Mayo Clinic. (2019). Shortness of Breath. Citing Internet sources URL https://www.mayoclinic.org/symptoms/shortness-of-breath/basics/definition/sym-20050890 diakses pada tanggal 5 Juni 2020 pukul 15.00

[2]    GINA Comitees. (2020). Asthma Management and Prevention for Adults and Children Older than 5 Years A Pocket Guide for Health Professionals. Citing Internet sources URL https://ginasthma.org/wp-content/uploads/2020/04/Main-pocket-guide_2020_04_03-final-wms.pdf. [ diakses pada tanggal 5 Juni 2020 pukul 16.00 ]

[3] Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2017). Asma: Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

[4] Aphridasari J., Ramadhani I.C. (2017). Terapi Inhalasi. In Pertemuan Ilmiah Respirasi (PIR) Solo 2017.

 

                      

              

Posted by Administrator Posted on July 13, 2020